ANJING

Seekor anjing bermimpi menjadi seorang manusia persis ketika ketuk palu hakim pengadilan memutuskan ia menjadi ahli waris tunggal dari harta kekayaan almarhum majikannya, dan ia pun telah sah secara hukum untuk mendapatkan selembar cek senilai 20 Triliyun rupiah. Menyisihkan 3 (tiga) anak kandung almarhum yang tidak kebagian satu rupiah pun. Perasaan sedih, senang, puas, dan sedikit besar kepala tumpah ruah di kepalanya. 

Ketika berada di tengah kerumunan para perempuan cantik, pikirannya langsung tertuju pada sosok tampan, sebut saja Leonardo Decaprio, Justin Bieber, Cristiano Ronaldo, dsb. Tetapi sebaliknya, tatkala dihadapannya berseliweran laki-laki dengan kendaraan model baru, memakai seragam rapi berdasi, ingin sekali  untuk menjadi seorang perempuan dengan tubuh yang semampai, rambut hitam berurai, kulit kuning langsat persis seperti Pevita Pearce, Maudi Ayunda, atau Isyana Sarasvati.

Sensasi menjadi laki-laki tampan atau perempuan cantik mengharu biru setiap tarikan napasnya. Tatapan matanya meningkat tajam seolah tengah dalam pergumulan batin yang hebat. Ia berada dalam persimpangan yang membuat kepalanya serasa mau pecah, apakah harus tetap istiqomah untuk tetap menjadi seekor anjing atau menuruti apa kata hati dan pikirannya, menjadi seorang manusia, dengan segala kesempurnaannya.

Anjing itu terhenyak hebat, ia mulai menyadari bahwa ia ‘tertakdirkan’ memasuki dunia baru yang tak dikenalnya,  dunia manusia. Mimpinya terkabul menjadi kenyataan.Banyak yang masih asing dan akan segera mengancamnya, kalau cepat-cepat tidak dikuasai. Ia harus cepat tanggap mempelajari posisi dan menyesuaikan diri. Binatang-binatang berantem kalau ingin menjadi pemenang, yang lari tandanya kalah. Tetapi manusia lain, kalau ada yang berantem, yang menang adalah yang menonton, yang menang adalah yang sedikit menderita kerugian.

Menjadi manusia ternyata menjadi mahluk yang menciptakan jalan-jalan baru, baik dalam mencapai kemenangan atau memenangkan kekalahan, konon itulah yang namanya peradaban. Manusia menciptakan dan kemudian tersungkur dalam peradaban.

Anjing itu ngelamun, ini juga baru. Dulu tidak tahu arti melamun, kalau diam dia akan tidur, dalam tidur pikirannya melayang. Tetapi sekarang dengan memilih menjadi manusia, dalam diam pun pikirannya terbang kian kemari. Berpikir tentang yang tidak ada. Menghayal segala yang tidak mungkin, menghidupkan yang sudah berlalu dan akan terjadi. Resah, gelisah, putus asa, bahkan hampir gila.  

Di dunia anjing, ketika dalam keadaan pusing cukup dengan menggonggong atau merobek mahluk yang lewat di depannya. Tetapi di dunia manusia, pusing itu urusannya dengan memeriksa tensi darah, menjalani general check up, minum obat dan istirahat yang cukup. Di dunia anjing, jalan-jalan itu berarti mencari makan, memperluas daerah teritorial, menuntaskan kebutuhan biologis, atau sekedar mencari pasangan baru. Berbeda dengan kehidupan manusia, jalan-jalan bisa berarti dalam keadaan banyak uang, refreshing, atau sekedar berolah raga untuk menyehatkan jantung dan cuci mata.

Anjing itu mulai berpikir, dan ini juga merupakan pengalaman yang tak biasa. Waktu menjadi anjing, tidak ada gunanya berpikir, menghabiskan waktu dan tenaga. Anjing yang berpikir adalah anjing tua yang penakut. Mereka berpikir untuk menyembunyikan  ketakutannya. Semua anjing sehat yang normal adalah mahluk yang praktis. Apa terasa, apa terdengar, apa terlihat langsung ditanggapi, berpikir bagi anjing adalah sesuatu yang mustahil. Ketika mencoba-mencoba berpikir, anjing yang jadi manusia itu menemukan bahwa hidup sekedar makan itu tidak cukup. Hidup hanya untuk makan itu primitif. Orang harus punya cita-cita, manusia harus punya rencana, punya masa depan, punya status, punya tempat di masyarakat.

Anjing itu mulai sangsi. Dapatkah ia terus menjadi manusia, bagaimana mungkin ia menjadi manusia kalau selalu masih merasa dirinya anjing. Menjadi manusia tidak cukup hanya sekedar menjadi, ia harus memikul akibatnya. Minimal punya KTP, dan KTP berarti asal usul, nenek  moyang, dan tanggal lahir. Ia tahu, ia sudah dilahirkan. Tetapi tidak tahu kapan, dimana dan darah siapa. Ia bukan anjing ras yang punya akte kelahiran. Ia hanya anjing kampung, kalau ibu ia masih ingat, tetapi bapak?

Semua anjing kawin tidak karuan, jarang anjing  tahu siapa bapaknya, kadangkala anak sama bapak bertempur untuk bisa kawin dengan anjing betina yang sama, tidak peduli ia adalah istri, ibu, adik, atau bahkan neneknya, yang penting berjenis kelamin betina.  Dalam kehidupan anjing, itu normal dan membanggakan, tetapi dalam dunia manusia itu aib. Keadaan itu melumpuhkan sekujur sarafnya, lebih sakit dari menahan lapar satu tahun, tubuhnya mengggil, pikiran kacau, stres yang hebat, rasa depresi yang tak tertahankan. 

Ia menutup matanya rapat-rapat, perlahan air matanya menetes, penuh ratapan, kepedihan, dan rasa sakit yang mendalam. Buat apa terlahir sebagai manusia, dengan pendidikan tinggi, harta berlimpah, kalau hidup sebatang kara tidak punya semangat, cita-cita, rencana, orang tua, saudara, tetangga, suami, istri, bahkan keturunan.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia merogoh sesuatu dari balik bajunya. Selembar kertas cek dengan nominal 20 Triliyun rupiah tampak masih utuh dan rapi. Tak lagi berpikir panjang, cek itu dilipatnya menjadi dua, empat, delapan, enam belas. Dengan sekuat tenaga, konsentrasi yang tinggi, ia sobek kertas cek itu secara horisontal, vertikal, diagonal, berulang kali. Sampai ia yakin, cek itu tidak akan lagi dikenali sebagai surat yang berharga, berisikan uang triliyunan rupiah. (Wallohualam Bisowab) 

1 comment:

  1. keren ceritanya menarik pak. lanjutkan... :D
    Ary Arviansyah

    ReplyDelete