TELOR

Seorang dermawan kaya raya meninggal dengan kesan yang mendalam dan mengharukan bagi semua orang, tetapi yang mencengangkan ia hanya meniggalkan sebutir Telor kepada keempat putranya sebagai warisan, tidak ada wasiat almarhum secara lisan maupun tulisan, Cuma sebutir telor, tidak lebih dari itu.
    Seketika orang kasak kusuk dan mengharu biru saling beradu opini, lempar batu sembunyi tangan. Telor sudah menjadi trending topik di media sosial, televisi, radio, koran, dan media antar mulut, menyebar dor to dor dari pintu ke pintu. Telor menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana membagi  sebutir telor  untuk empat putranya yang cinta dan pengabdiannya sama. Warga di seantero desa  sibuk urun pendapat membahas masalah itu, baik di tempat kerja, pos ronda, atau di rumah bersama istrinya sambil menunggu anak-anak tidur lebih awal.
            Seorang pensiunan guru, yang rumahnya bersebelahan dengan almarhum dan saksi hidup di detik akhir kematiannya, berpendapat bahwa warisan telor dari seorang dermawan kaya raya sebenarnya juga adalah warisan ajaran hidup kepada kita semua yang ditinggalkan. Mengapa sebuah telor, bukan rumah, mobil, saham atau benda-benda lain. Telor adalah embrio untuk melanjutkan kehidupan, kita harus memberikan bantuan agar telor itu berkembang dan menetas.
              Teman sejawat almarhum yang juga ketua Rukun Tetangga (RT) punya fakta lain, bahwa warisan telor itu memiliki makna simbolik, ia harus ditafsirkan secara filosofis, tidak boleh diukur secara fisikal, nilai instrinsuknya yang harus disimak, jangan lupa pengusaha besar Almarhum Bob Sadino pada mulanya hanya pedagang telor keliling dari kampung ke kampung. Bahkan pelaut Columbus menemukan benua Amerika juga dengan bantuan sebutir telor.
           Telor itu menjadi teka-teki, mengapa telor, telor ayam kampung. Dan mengapa hanya sebutir bukan empat, sesuai dengan jumlah ahli warisnya. Semakin dipikir, makin tidak masuk akal, makin dipandang itu telur, semakin membingungkan. Mula-mula tidak percaya, tetapi ketidakpercayaan  itu tidak mengubah telor itu menjadi uang atau harta benda yang lebih berharga. Ia tetap saja telor, putih lonjong dan kecil sekali, telor ayam kampung. Dan sudah dipastikan sebentar lagi akan membusuk dengan sendirinya kalau tidak segera diambil tindakan.
              Persoalan timbul karena telor itu sebuah warisan yang harus dibagi kepada empat orang ahli warisnya. Kesulitan keempat ahli waris tersebut menjadi kesulitan semua orang. Para tetangga, kenalan, sanak-famili mencoba ikut berpartisipasi memberikan saran-saran. Ada yangmengusulkan agar telor itu dititipkan pada seekor ayam agar menetas. Setelah menetas, anak ayam itu dipelihara sehingga berkembang biak, nanti kalau jumlahnya sudah empat bisa dibagi dengan mudah.
             Seorang famili mengingatkan keeempat ahli warisnya bahwa telor  itu tidak lebih dari telor biasa yang dijual bebas di pasar tradisional. Tidak ada artinya, jadi tidak usah dipikirkan untuk membagi, dibuang juga tidak apa-apa. Itu hanya sebutir telor. Pendapat berbeda diutarakan seorang tokoh ahli kebatinan. Ia menjelaskan bahwa sebutir telor tidak mungkin dibagi, hakikat dari sebutir telor adalah keutuhan. Jadi telor itu tidak usah dibagi, tetapi diberikan kepada ahli waris yang membutuhkan. Siapa dari keempat ahli waris yang paling membutuhkan.
           Kiyai kampung mencoba ikut memecahkan persoalan itu dengan sudut pandang yang praktis.  Soal gampang jangan dibuat sulit, setelah sulit lalu dibelit-belit. Masa membagi sebutir telor saja repot, rebus saja setelah matang bagi empat, kalau perlu ditimbang, kok susah-susah amat.  Kita harus berpikir rasional, realistis, praktis,  konkrit dan efisien.
      Setelah menimbang dan berpikir panjang lebar, keeampat ahli waris akhirnya memutuskan untuk meminta jasa konsultasi dari luar negeri. Bukan bermaksud untuk menyepelekan uluran bantuan yang sudah diberikan, semata untuk menjaga obyektivitas, kalau menyerahkan pembagian kepada orang luar, sama sekali tidak tersangkut secara emosional, bisa lebih obyektip, dan transparan.
          Tak perlu waktu lama, seminggu kemudian orang yang dipintakan bantuan tersebut sudah hadir di tengah para ahli warisnya dan tidak kurang dari satu hari yang diperlukan, Ia sudah berhasil mengidentifikasi semua dokumen yang terkait dengan almarhum, khususnya menyoal pemberian warisan sebutir telor.
      “Setelah mempelajari arsip-arsip almarhum, ada sebuah petunjuk yang sangat membantu untuk memecahkan warisan sebutir telor tersebut, bahwa kepada masing-masing ahli waris diberikan sebuah mobil baru dan sebuah rumah di sebuah real estate yang dapat dipilih sesukanya dengan batasan harga 200 juta rupiah, itulah keputusan dan jawaban terkait pembagian hak waris itu”
          Keempat ahli waris tercengang, mereka tak mengerti bagaimana mungkin sebutir telor ayam kampung bisa bernilai sebuah mobil mewah dan rumah yang tergolong mahal, tapi apa daya, semua sudah diputuskan dan tidak ada alasan untuk tidak menerimanya, semua harus sepakat dan menerimanya dengan ikhlas. Mereka saling memandang, ada rasa malu, juga aura kebahagiaan yang memancar di wajahnya.
           Walhasil dengan adanya keputusan ini, semua teka teki dan kesulitan mengenai pemahaman terhadap sebutir telor berakhir sudah. Sementara konsultan dari luar negeri pulang dengan perasaan lega dan kebanggan yang tidak ternilai. Ia tertidur pulas di atas pesawat, karena sudah berhasil melakukan pekerjaan yang maha berat dengah hasil memuaskan buat semua orang. Ketika pramugari siap membagikan makanan, ia tersentak bangun, lalu memperbaiki duduknya. Di saku celananya terasa sesuatu yang berantakan, ia baru sadar bahwa ia sudah memasukan sebutir telor itu, sebagai kado kenang-kenangan  ke dalam sakunya. Dengan hati-hati ia merogoh kado dengan bungkus hijau berpita merah melingkar dan tampak telor tersebut sudah berantakan berkeping-keping, tetapi aneh tidak ada cairan yang keluar, layaknya sebutir telor ayam kampung.
          Ia mengernyitkan dahinya, dan perlahan mengebitkan kepingan kulit telor tersebut satu persatu. Dari pecahan kulit telor tersembul sebuah kertas putih, ketika diperiksa sebuah cek tunai dari sebuah bank di Swiss, nilainya 40 Triliyun rupiah. (Wallohualam Bisowab)    

No comments:

Post a Comment