Kalau jodoh takkan kemana, dikejar sampai
ke puncak gunung Gede dan sembah sujud sama Eyang Sinto Gendeng untuk
dimandikan pada tujuh mata air sekalipun kalau bukan jodohnya, yakinlah gak
bakalan ke pelaminan juga. Ya…. itu mah taglinenya
para pengikut aliran Mario Teguh Golden Ways yang sudah pada gulung tikar, tetap saja bagi sebagian
orang yang belum mendapatkan jodohnya, bawaannya stres, pusing tujuh keliling,
depresi tingkat tinggi, kaki di kepala kepala di kaki, gak enak makan gak enak
tidur, seminggu berasa setahun, ujung-ujungnya sumpah serapah nyalahin Tuhan,
Orang Tua, Tetangga, Pacar, Mantan, Selingkuhan dan lain sebagainya, bahkan ada yang sampai sobek-sobek photo Penyanyi Afgan karena lagunya yang berjudul "Jodoh Pasti Bertemu" ternyata dusta dan bohong belaka. Tidak
sedikit juga yang kasak kusuk ganti nama, pindah agama, atau pergi ke fengsui agar ditunjukan arah mata angin, kemana harus memulai langkah untuk misi pencarian
jodoh. Alangkah sialnya ketika konsultasinya lagi musim angin puting beliung, angin tornado atau angin buhorok di sumatera sana. Yang didapat bukan lagi tuntunan dan arahan, malah makin kelimpungan tidak karuan.
Perumpamaan mencari jodoh itu seperti
mencari peniti dalam tumpukan jerami, perlu kesabaran, ketelatenan, perjuangan,
dan tentunya semangat kemerdekaan 1945. Karena ada yang dimudahkan, ada yang
ditunda, ada yang diakhirkan, dan ada juga yang penuh lelikuan, sudah menempuh
1001 macam cara tetapi gak berhasil juga. Alasannya beragam, bisa karena beda
strata, beda samudera, beda agama, atau mungkin juga karena beda planet,
Perempuannya di planet Bumi, Laki-lakinya di planet Mars, jadi nunggu ada
angkutan bis kota trayek Bumi-Mars. Terkadang jodoh juga seperti mahluk halus
yang gentayangan, ada yang jodohnya datang tanpa diundang, seketika bersanding
ke pelaminan atau sudah merasa yakin jodohnya, eh malah pergi tanpa permisi. Yang lebih ngenes lagi masalah jodoh, tatkala yang lama dikenal tak juga memberikan kepastian, justru yang baru kenal malah sumringah mengiyakan proses lamaran.
Dalam masyarakat Indonesia, Jodoh itu
satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan dan kesuksesan seseorang,
baik sebagai individu maupun anggota masyarakat, tidak peduli dengan pendidikan
yang tinggi, wajah rupawan, karier yang mapan atau harta yang berlimpah tujuh
turunan gak habis-habis, kalau sudah memenuhi syarat secara usia dan belum
mendapatkan jodoh, bersiaplah untuk mendapatkan teguran sosial berupa
pertanyaan, cemoohan, gunjingan, atau bahkan cercaan. Kapan nikah, mana
calonnya, orang mana, kerja dimana, dsb.
Almarhum Psikolog Sarlito Wirawan pernah berujar masa the golden beauty bagi kaum perempuan untuk memudahkan pencarian jodoh ada di rentangan usia 17 sampai dengan 25. Sedangkan untuk kaum laki-laki di rentangan 25 sampai 35 tahun. Laki-laki memiliki start yang lebih mundur mungkin dikarenakan proses pematangan karakter butuh waktu yang lebih lama.
Almarhum Psikolog Sarlito Wirawan pernah berujar masa the golden beauty bagi kaum perempuan untuk memudahkan pencarian jodoh ada di rentangan usia 17 sampai dengan 25. Sedangkan untuk kaum laki-laki di rentangan 25 sampai 35 tahun. Laki-laki memiliki start yang lebih mundur mungkin dikarenakan proses pematangan karakter butuh waktu yang lebih lama.
Jika kondisi di atas tidak tidak berjalan semestinya, maka keputusasaan biasanya mengharu biru orang
yang belum mendapatkan jodoh, mulai dari minta pertolongan orang sakti, mengiba
sama teman, maksa orang tua, atau hilir mudik ikut kontak jodoh yang ada di
radio, koran hingga internet, padahal janji Allah sudah sangat tegas dan jelas,
yang mengatakan “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya
kamu mengingat akan kebesaran Allah.”(QS Adz-Zaariyat:51).
Kepanikan tersebut tidaklah seberapa,
dahulu seorang Ninik Anteh pun sampai ingin mengasingkan diri ke bulan karena
berjodoh dengan orang yang tidak dicintainya. Dewi Pohaci sampai rela bertapa
naik gunung turun lembah karena cintanya terbentur restu orang tua, atau Siti
Nurbaya yang harus meregang nyawa, karena terpaksa menikah dengan lelaki tua renta
(Datuk Maringgih) demi bakti orang tua dan kehormatan keluarga.
Jodoh itu cerminan diri, potret kehidupan
yang sebenarnya. Mereka yang datang atas nama jodoh tidak akan jauh dari apa
yang pernah dan sedang dilakukan. Jangan berharap mendapatkan jodoh yang pintar
mengolah makanan kalau tidak pernah melangkahkan kaki ke dapur, untuk melihat
pekerjaan di dapur, membantu membersikan peralatan memasak atau sekedar numpang
lewat untuk cuci tangan sekalipun. Dia yang ‘tertakdirkan’ sebagai jodoh tidak
akan jauh dari ikhtiar seseorang untuk mengubah diri menjadi sosok yang
perhatian, pengertian dan dikagumi.(Wallohualam Bisowab)

No comments:
Post a Comment