Logiskah
bila sebuah ketulusan cinta harus berantakan berkalang tanah, berlinang air
mata, bahkan sampai meregang nyawa sekalipun gara-gara mencoba untuk bersikap
setia. Sebuah kesetiaan tanpa batas yang terbangun sejak nenek moyang kita
menyanyikan lagu Bandung Lautan Api atau Sapu Tangan Dari Bandung Selatan. Bukankah
reformasi yang kita gembor-gemborkan sejak pertengahan tahun 1998 mengajarkan
kita untuk tidak lagi bersikap setia. setia kepada peraturan pemerintah, kampanye
politik, adat istiadat, sighat taklik, atau takdir sekalipun.
Seperti
setianya masyarakat kita menanti janji pemerintahan Jokowi-JK, ramalan ki Joko
Bodo, wangsit kesatria Piningit, atau harta kartun peninggalan Bung Karno
bernilai triliunan rupiah di selasar selatan pantai jawa. Kesetiaan sudah
menjadi wajah negeri ini, teramat cantik bak bidadari tersenyum dari puri
kahyangan, tumpah ruah dari pelosok desa hingga ke kota, anak seumur jagung,
ibu rumah tangga, wanita karier, pejabat, bahkan pemuka agama sekalipun.
Siapa
yang tak terpesona dengan keluguan cinta antara akang abah dan teh anis, cinta
segitiga antara Boy, Reva, dan Clara, Cinta sejatinya Mondi dan Raya, atau
ungkapan “Cocok” dari salah seorang pemeran di Film Anak Jalanan. Semua datang
bersahaja menyapa penonton yang setia di depan layar kaca, mengalahkan pidato
presiden tentang kebijakan paket ekonomi, tayangan moto GP, Bigmatch Liga
Inggris, bahkan kumandang adzan Magrib Sekalipun. Semua bersujud dalam
ketakberdayaan atas nama kesetiaan.
Sejatinya
kesetiaan tercurah hanya kepada pemilik dan penguasa alam jagad raya ini. Setia
dan kesetiaan adalah sebuah pengabdian tertinggi dari pergulatan material dan immaterial
seorang hamba kepada Tuhannya. Seperti yang pernah dibelajarkan oleh Nabi
Ibrahim AS, Siti Hajar, dan putranya Ismail. Bukan karena kebetulan,
kepentingan, emosional,dsb. Islam sangat menganjurkan kesetiaan, dalam berbagai
strata dan seluk beluk kehidupan ini.
Kita
bukan Romeo dan Juliet, Rama dan Shinta, atau Roro Mendut dan Panacita, juga bukan
seekor Anjing bernama Hachiko, yang menghabiskan sisa hidupnya di tepian stasiun
kereta api Shibuya Jepang menjemput majikannya kembali meskipun sudah tiada, selama puluhan tahun. Biarkan
perceraian Artis Sahrul Gunawan, Vena Melinda, Risty Tagor, atau Dewi Rezer
mengalir sebagaimana mestinya. Hidup hanya sekedar percobaan dan ujian kesetiaan dari Tuhan kepada mahluknya, yang lahir,
dan bergulir tanpa memandang usia, agama, dan strata kehidupan. (Wallohualam bisowab)

No comments:
Post a Comment