“What’s
in a name, that which we call a rose by any other name would smell as
sweet” apalah arti sebuah nama, andaikata kamu memberikan nama lain
untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi. Demikian perkataan
William Shakespeare yang sudah mendarah daging di benak warga RT 35
tatkala ada orang lain yang menelisik keberadaan lelaki paruh baya tanpa
nama tersebut.
Tanpa
nama ia sudah menjadi bagian dari kegiatan rukun tetangga yang baik. Ia
giat ronda malam dengan penuh tanggung jawab. Aktip kerja bakti untuk
menjadi bagian dari kebersihan lingkungan, bahkan ia menjadi sangat
sibuk, ketika ada tetangga menggelar syukuran nikahan, khitanan, apalagi
upacara kematian. Ia selalu muncul, meramaikan barisan duka, biasanya
memegang bendera kuning dibonceng oleh seseorang untuk mendahului
iring-iringan jenazah.
Pekerjaannya
sehari-hari tidak tentu, ia seorang pembantu umum yang dapat
dimanpaatkan siapa saja di pasar. Membantu kaum hawa menaik turunkan
dagangan mereka ke atas colt atau menggantikan salah seorang menunggu
jualannya. Ia tidak pernah nakal pada uang, karena itulah ia dipercaya.
Tetapi ia juga tidak mau terikat untuk bekerja terus menerus pada satu
orang, meskipun dengan bayaran yang tinggi. Nampaknya dengan sengaja
memainkan diri sebagai milik semua orang, bukan monopoli satu majikan.
Sebagai
hasilnya, seluruh warga RT mencintainya. Kadang-kadang ada yang
menyebutnya pak Amat, kalau karena suatu sebab terpaksa harus menuliskan
namanya. Misalnya untuk mendaftarkan diri dalam pemilihan kepala desa,
pembagian jadwal kegiatan ronda malam atau pendataan untuk mendapatkan
bantuan dari Pemerintah. Tetapi nama itu tidak nserta merta melekat
kepada tubuhnya, besoknya pada kegiatan lain, namanya bisa berubah
menjadi Pak Teguh, Pak Budi, Pak Agus, dsb.
Ia
bagaikan bola terus menggelinding, merdeka dan mandiri mengikuti
hari-hari berjalan, selaras dengan perkembangan dan tuntutan zaman.
Dipanggil dengan bermacam-macam sebutan sesuai dengan suasana dan orang
yang memanggilnya. Tak jelas, apakah ia sendiri yang mengelak untuk
memakai sebuah dengan tetap atau orang suka melihat ada seorang warga
yang bisa dipanggil apa saja sesuai dengan kebutuhan dan enak perutnya,
dengan berandai-andai, suatu ketika lelaki tanpa nama tersebut bisa
masuk ke dalam Guines Book Record Dunia, sehingga kampung tempat lelaki
tanpa nama tersebut bisa tercatat dalam sejarah dunia dan menjadi
destinasi wisata sebagai kampung tanpa nama. (Wallohualam Bisowab)

No comments:
Post a Comment