Apalah Arti Sebuah Nama

RT 35 punya semacam kebanggan nasional, melebihi kebanggaan terhadap raihan prestasi timnas U-19 yang sukses menorehkan sejarah sebagai juara piala AFF U-19 dua tahun silam. Betapa tidak, salah seorang warganya adalah lelaki yang masih tetap sebuah kertas blangko kosong dalam usia 85 tahun. Ia tidak punya nama, orang bebas memanggilnya apa saja sesuai mood dan kebutuhan. Dia tidak pernah keberatan, tidak pernah ada masalah, tidak ada diantara warga yang merasa tergangu atau protes kenapa seorang tetangga tidak punya nama. Semua menerima kehadirannya dengan indah, penuh kekeluargaan dan kasih sayang. 

“What’s in a name, that which we call a rose by any other name would smell as sweet” apalah arti sebuah nama, andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi. Demikian perkataan William Shakespeare yang sudah mendarah daging di benak warga RT 35 tatkala ada orang lain yang menelisik keberadaan lelaki paruh baya tanpa nama tersebut. 

Tanpa nama ia sudah menjadi bagian dari kegiatan rukun tetangga yang baik. Ia giat ronda malam dengan penuh tanggung jawab. Aktip kerja bakti untuk menjadi bagian dari kebersihan lingkungan, bahkan ia menjadi sangat sibuk, ketika ada tetangga menggelar syukuran nikahan, khitanan, apalagi upacara kematian. Ia selalu muncul, meramaikan barisan duka, biasanya memegang bendera kuning dibonceng oleh seseorang untuk mendahului iring-iringan jenazah.

Pekerjaannya sehari-hari tidak tentu, ia seorang pembantu umum yang dapat dimanpaatkan siapa saja di pasar. Membantu kaum hawa menaik turunkan dagangan mereka ke atas colt atau menggantikan salah seorang menunggu jualannya. Ia tidak pernah nakal pada uang, karena itulah ia dipercaya. Tetapi ia juga tidak mau terikat untuk bekerja terus menerus pada satu orang, meskipun dengan bayaran yang tinggi. Nampaknya dengan sengaja memainkan diri sebagai milik semua orang, bukan monopoli satu majikan.

Sebagai hasilnya, seluruh warga RT mencintainya. Kadang-kadang ada yang menyebutnya pak Amat, kalau karena suatu sebab terpaksa harus menuliskan namanya. Misalnya untuk mendaftarkan diri dalam pemilihan kepala desa, pembagian jadwal kegiatan ronda malam atau pendataan untuk mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Tetapi nama itu tidak nserta merta melekat kepada tubuhnya, besoknya pada kegiatan lain, namanya bisa berubah menjadi Pak Teguh, Pak Budi, Pak Agus, dsb.

Ia bagaikan bola terus menggelinding, merdeka dan mandiri mengikuti hari-hari berjalan, selaras dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Dipanggil dengan bermacam-macam sebutan sesuai dengan suasana dan orang yang memanggilnya. Tak jelas, apakah ia sendiri yang mengelak untuk memakai sebuah dengan tetap atau orang suka melihat ada seorang warga yang bisa dipanggil apa saja sesuai dengan kebutuhan dan enak perutnya, dengan berandai-andai, suatu ketika lelaki tanpa nama tersebut bisa masuk ke dalam Guines Book Record Dunia, sehingga kampung tempat lelaki tanpa nama tersebut bisa tercatat dalam sejarah dunia dan menjadi destinasi wisata sebagai kampung tanpa nama. (Wallohualam Bisowab)

No comments:

Post a Comment