SIMALAKAMA UCAPAN BELASUNGKAWA

Kematian itu sebuah kepastian, 24 jam mengintai semua mahluk hidup di muka bumi ini. Tak pernah mengenal torleransi waktu, tempat, usia, status sosial, kondisi pisik dan psikis, jenis kelamin, dsb. Easy come easy go pokoknya mah. Kematian bukan cobaan, musibah, pelajaran, tetapi sebuah pilihan dan keharusan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. 
Rasa ditinggal karena kematian orang terdekat sudah pasti meninggalkan rasa sedih, perih, dan getir yang begitu mendalam, perlu berbulan, bertahun-tahun untuk dapat kembali ceria seperti sedia kala. Tidak ada obat atau penawarnya, baik secara medis maupun keyakinan, karena hal demikian sesuatu yang manusiawi. 
Kadar kegetiran paling berat sudah pasti bagi seorang anak yang belum berkeluarga harus menadapati suratan hidupnya lebih dahulu ditinggal mati oleh ibu atau ayah kandungnya. Karena tidak mungking ada orang yang menggantikan statusnya sebagai ibu atau bapak kandung. Kadar kesedihan tentu berbeda dengan seseorang yang ditinggal mati oleh suami ataupun istrinya karena suatu ketika pastilah ada orang yang menggantikannya, akan berbeda lagi kadar kesedihan bagi seseorang yang ditinggal mati oleh adik atau kakaknya, saudara, teman, ataupun tetanggganya. 
        Rasa empati, simpati, turut berduka cita biasanya mengalir bak cendawan di musim hujan. Entah melalui karangan bunga, SMS, Media sosial, Telephone atau datang langsung menemui orang yang bersangkutan. Yang alay, slengean, dan bergaya preman pun mendadak alim, lesu, dan tidak sedikit yang menitikan air mata tatkala menyoal takdir yang satu itu. Niatnya baik, tujuanya mulia, sebentuk perhatian dan empati yang luar biasa, sebagai manifestasi budaya ketimuran, risalah agama maupun warisan leluhur yang turun temurun. 
      Menjadi buah simalakama ketika ucapan berbela sungkawa itu malah tidak membuat keadaan dan kondisi kejiwaan orang yang ditinggalkan lebih baik, bahkan bisa lebih buruk. Terlepas dari konteks agama dan kepercayaan yang dianut, ucapan berbela sungkawa melalui pesan singkat SMS, BBM, Media Sosial yang panjang dan dramatis bisa membuat keadaan semakin fatal dan membuat waktu penyembuhan bagi yang bersangkutan akan semakin lama dan rasa sedih, perih, dan getir akan lebih hebat lagi. 
       Setali tiga uang dengan ucapan berbela sungkawa melalui telephone, maka semua kata-kata yang terucapkan akan terekam pada memori dan hati orang yang ditinggalkan tersebut. Niat yang semula begitu mulia sebagai seorang sahabat, keluarga, tetangga ternyata berdampak pada kejiwaan seseorang yang ditinggalkan tidak lebih tenang dan tegar. Hal demikian sangatlah logis karena orang yang ditinggalkan tidaklah butuh kata-kata yang puitis, religius dan dramatis (baca:curhatan) baik lisan ataupun tulisan, yang Ia nantikan adalah ada telinga yang mau mendengar, ada hati yang mau memahami, kesedihannya dari A sampai Z, siang maupun malam, bukan kalimat-kalimat sok bijak dan menggurui. 
     Datang langsung menemui orang yang bersangkutan adalah keputusan yang sangat tepat dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh orang yang sedang berduka tersebut. Tetapi tetap tidak ada kalimat-kalimat yang puitis dan dramatis tadi. Ulurkan kedua tangan selebar-lebarmya, peluk dan tepuk pundaknya sekuat-kuatnya, dan yang terakhir lemparkan senyum gumregah penuh semangat dan kesankan wajah kita dengan penuh keceriaan untuk mengajaknya menatap hari esok yang lebih baik, indah, dan menyenangkan.(Wallahu A'lam Bissawab)

No comments:

Post a Comment