Seorang tukang copet
berkunjung ke salah satu tempat praktek dokter psikologi untuk mengadukan
nasibnya. Ia terdiam seribu bahasa di
ruang tunggu dan seperti sengaja membiarkan dirinya sebagai pasien terakhir. Begitu
para langganan habis, ia bergegas masuk langsung menembak dengan kata-katanya
yang sungguh memekakan telinga, dokter pun seketika melongo, baru kali ini
mendapati pasien yang stresnya luar biasa.
“Dokter,
saya ini seorang tukang copet, namaku tidak perlu kau tahu, yang jelas aku
sudah dinas sebagai tukang copet selama 10 tahun, tetapi mendadak hari ini aku
dalam kesulitan besar, kau harus menolongku karena seorang dokter tidak boleh
membeda-bedakn pasien, begitu kan?”
Psikolog
pun tercengang, seolah tidak percaya dengan yang Ia hadapi, tapi sebelum sempat
bertanya tukang copet itu terus menyerbu, seolah ingin segala unek-uneknya
ditumpahkan dengan segera.
“Dalam
masa kerjaku selama ini, aku tidak pernah satu kali kepergok orang yang aku
copet, jangankan ditangkap, aku sama sekali tidak pernah ketahuan orang lain,
jangankan ketahuan, diriku sendiri saja kadang-kadang tidak sadar bahwa aku
sedang mencopet. Tahunya uang dan perhiasan itusudah ada dikantongku. Demi tuhan,
sumpah mati, ini sesuai dengan prinsip kompetensi dasar ilmu pencopetan, yaitu:
tidak boleh kelihatan,tidak boleh kedengaran,tidak boleh dirasakan, dan kalau bisa
tidak boleh diingat, datang tak diundang, pergi tanpa permisi” sambung tukang
copet, tersenyum masam, matanya sedikti berkaca-kaca, menarik napas
dalam-dalam, seolah tak percaya apa yang menimpa dirinya.
“Masa
dinasku sebagai tukang copet sudah 15 tahun dokter, kalau di dunia persilatan aku
ini sudah menyandang gelas sabuk hitam, sebab sebelum masa dinasku, aku sudah
menjalani masa nyantri 2 tahun, masa
orientasi 3 tahun, dan masa pemantapan 1 tahun. Walhasil kalau dikalkulasi
sudah 20 tahun aku kerja seperti ini.”
“Semuanya
berjalan dengan indah, itu sesuai dengan filosofi yang aku anut, mencopet itu
pekerjaan, bagian dari usaha untuk bertahan hidup, jadi yang penting hasilnya,
bukan tindaknnya, setiap operasi harus mendatangkan hasil sebaik mungkin dan
sebagaimana dokter tahu, hasil yang baik tidak mungkin dicapai dengan cara yang
belepotan, jadi dengan kata lain, aku ini seorang mahluk Tuhan yang teliti,
penuh perencanaan, sepi ing pamrih rame ing gawe, bagus kan dokter?”
Psikolog
pun hanya bias mengangguk, bukan untuk membenarkan tapi mempersilahkan pasien
itu menumpahkan unek-uneknya
“Bagus,
kau mengerti kalau begitu, aku betul-betul tidak pernah mengganggu orang, aku
hanya mengambil duitnya saja, itu pun tanpa sepengetahuan mereka, tapi gak tahu
kenapa meskipun aku kerja sungguh-sungguh dan sukses, belakangan ini ada
sesuatu yang tidak beres, aku tidak tahu”
“jadi
begini dokter, mengapa dengan kedigjayaan semacam itu aku masih mengalami kenyataan
pahit, hidupku jadi tragis, mengapa sampai aku bilang tragis?,sebab kemarin
ketika aku sampai ke rumah, terjadi peristiwa yang belum pernah aku alami
seumur hidup, dokter pasti terkejut, bayangkan bagaimana mungkin, tiba-tiba aku
baru sadar bahwa kau kecopetan, bayangkan dok, this is impossible…bagaimana
mungkin seorang raja copet seperti aku sampai kecopetan, namanya saja
raja, itu berarti topnya, masak top-topnya pencopet bisa kecopetan, itu kan
tidak lucu, diluar nalar, tidak manusiawi, tuhan tidak adil,ini pasti ada yang
tidak bener, nah itulah sebabnya aku datang untuk curhat, supaya jiwaku tenang
lagi, anak dan istri tidak lagi ngomel karena kehabisan bekal, ini masalah
berat dokter, aku depresi” Psikolog lantas menuliskan sesuatu di dalam catatannya
“Tak
usah ditulis dokter, aku ini gak pernah sekolah, makanya gak bisa baca dan
nulis. Kau katakana saja terus terang, aku lebih suka blak-blakan, kalau jelek
bilang saja jelek, supaya aku bisa melakukan perbaikan ke depannya. Aku ini
sudah dewasa, aku bisa menerima kenyataan hidup, sudahlah bilang saja terus
terang”
“Ya
kan, apa salahnya dokter. Ini juga pekerjaan sama dengan pekerjaan anda seorang
dokter. Kita semua ini sebenarnya kan tukang copet semua, hanya ada yang
langsung di lapangan memburu dompet, ada juga yang melalui jalan belat belit,
seperti pedagan misalnya. Padahal sebetulnya juga semua untuk cari makan,
seperti dokter juga, mencopet uang dengan resep, makanya kalau disederhanakan
kau dan aku sama saja, kita semua cari makan.” Dokter pun melanjutkan
catatan-catatanya, tanpa menghiraukan pasien itu yang makin menjadi-jadi
“Baguslah
kalau kau mengerti dokter, tidak sia-sia aku ngantri dan bayar biaya
pendaptaran yang mahal ini. Oh iya dokter, aku baru ingat sekarang, tiba-tiba
tas yang baru saja aku copet di Mall itu hilang, yang paling menyakitkan aku
tidak tahu dimana tas itu hilang, kapan dan siapa yang mengambilnya, ini yang
paling berat, sama sekali tidak lucu, masak dewa copet sampai kecopetan, ini
memalukan, ini aib, ini sudah menyalahi pakem dong,ya tidak?”
Dokter
pun mulai angkat bicara ” itu bisa saja terjadi, kehidupan selalu
memungkinkan apa yang tak masuk di akal
manusia bisa terjadi begitu saja, hidup selalu mendahului perhitungan kita, hidup itu guru yang lebih
pintar orang yang menjalani kehidupannya,” tukas dokter dengan penuh hati-hati “biarpun
anda raja copet, sangat mungkin terjadi di dunia ini, lihat saja petinju
Muhammad Ali, raja tinju akhirnya juga kena tinju, itu namanya dialektika
kehidupan”
“goblok kau dokter, orang
begini kok bisa jadi dokter. Dokter masa tidak tahu, Ali itu kan tidak pernah
kalah, buktinya coba siapa yang mengalahkan dia, mana dia sekarang, kalau dia
sudah mengalahkan Ali berarti dia menang, orang yang menang mestinya lebih
hebat dari yang kalah. Mestinya namanya berkibar lebih tinggi dari Ali. Sebaliknya
nama Ali semakin ngetop saja, iya kan?”
“Dokter
dalam hal ini kita berbeda, coba tengok ke atas langit ruangan ini, coba
binatang apa namanya, kita sepakat kan itu cecak namanya. Kalau itu cecak itu
tidak mungkin kita sebut kodok, ular atau buaya. Cecak ya cecak, sekali cecak
ya cecak. Kalaupun ekor cecak menyerupai buaya tetap saja itu cecak buakan
buaya. Nah aku ini tukang copet, sekali tukang copet aku ini tetap tukang
copet, rajanya copet, jadi bagaimana mungkin rajanya, dewanya, mbahnya copet
bisa kecopetan
“Aku
tadinya mengira ini hanya mimpi dokter, sambung tukang copet sambil
menjewer-jewer pipinya. Tapi setelah aku jewer-jewer pipiku, ternyata tidak
mabuk, aku segar bugar, ini bukan mimpi, ini fakta, tak mungkin raja copet
sampai mimpi, tukang copet tidak boleh tidur, aku selalu bangun waktu orang
tidur, karena itu namaku copet, maksudku raja copet, makanya aku sedih sekarang
ini, kepercayaan diriku hilang sektika.”
“Mungkin
isi tas itu dokter, bukan hanya jutaan, karena isi tas itu belum aku periksa
apa isinya, aku hanya menyabetnya saja
dari salah seorang wanita cantik, mungkin isinya bisa milyaran” sambung
tukang copet
“Tapi
mungkin….mungkin bisa saja tas yang anda copet itu juga kosong, tidak isinya. Ya
siapa tahu, anda sudah mengambil tas yang tidak ada isinya” jawab dokter serius
“ gila,
itu gila, itu pikiran sinting, kau dokter sembarangan aja, kali kau ini bukan
dokter, ya tidak mungkin dong raja copet mencopet tas kosong, enak aja kau,
kagak bisa, tidak pernah terjadi dalam
sejarah, buat apa aku nyopet tas kosong, kau ini ada-ada saja” gertak tukang
copet
“Cukup,
aku sudah mendengar dan mengerti apa yang anda alami, satu-satunya alternative kalau
seorang raja copet kecopetan adalah bahwa anda sebenarnya, sebenar-benarnya,
tidak sebagaimana anda perkirakan, anda ini, karena sudah sempat kecopetan,
anda sebetulnya adalah…..maaf, anda…maaf sekali lagi maaf, ini fakta, anda ini
sebenarnya…..bukan tukang copet, jadi selamat, segera anda pulang ke rumah
peluk anak dan istri anda di rumah, minta maap ke orang tua, tetangga, dan
masyarakat.”
“Anda bukan tukang copet, tukang copet itu
tidak mungkin kecopetan, anda ini manusia biasa yang sama dengan manusia lain,
jadi anda sempurna dan sehat, karena itu anda tidak perlu diobati, anda sudah
sembuh. Karena anda tidak sakit, anda harus pulang sekarang, selamat…selamat. Yakinlah
jabat tangan saya ini bukti bahwa anda tidak sakit, dan segera pulang.” Imbuh dokter
sambil mengantarkan tukang copet ke balik pintu keluar
Setelah
tukang copet pergi, psikolog itu terhenyak di kursi, kepalanya pusing, ia
termenung, di langit-langit kamar praktek itu ia melihat mulut seekor cecak
terbuka mengucapkanapa yang sudah dikatakan oleh pasien yang terakhir tadi
kepadanya. Kata-kata itu berjatuhan seperti reruntuhan langit menimbuni
dirinya. Suara itu menghantam bertubi-tubi telinganya, kalau eko cecak itu
mirip ekor buaya,maka tetap saja itu cecak, kalau raja copet kecopetan tetap
saja copet, dewa copet. Tiba-tiba telpon bordering, psikolog langsung melonjak,
telpon pun diangkatnya.
“Halo,
ini aku dokter, raja copet yang tadi bertamu sam kau dokter. Aku sekarang
sedang ada di dalam rumah makan sea food, makan-makan kesukaanku. Sekarang pikiranku
sudah tenang, aku menikmati hasil karyaku yang pertama hari ini, aku puas
sekali, seperti sudah aku katakana, kalau cecak tetap aja cecak, sekali dia bernama cecak, walaupun kita
panggin kodok misalnya tetap saja ia cecak. Aku juga begitu, meskipun dokter bilang aku ini bukang tukang
copet, ternyata aku tukang copet, sekali tukang copet tetap aja tukan copet,
raja copet. Sebab meskipun aku mencopet uang orang, tapi orang tidak pernah
merasa aku copet. Aku memilih waktu mencopet, aku hanya mengambil uang orang
yang kelebihan, aku tidak pernah mengambil uang orang yang pas-pasan terima
kasih banyak dokter, Assallamualakum” (Wallohualam bisowab)

No comments:
Post a Comment