KREATIF

Kalo ada lomba bintang komedi mirip Sule, Rina Nose, atau Parto Patrio tingkat kelurahan misalnya, maka haqul yakin pesertanya akan berbondong-bondong untuk berpartisipasi dalam kegiatan lomba tersebut, apalagi kalau panitia menyediakan hadiah besar buat para pemenang, uang pembinaan atau ketemu langsung dengan artisnya. Alasan keikutsertaannya bisa bermacam-macam, bisa karena menurut mata kepala sendiri memang merasa mirip secara fisik, rekomendasi apa kata tetangga, teman, saudara, atau simsalabim, bayar juru makeup untuk ngedandanin wajah biar bisa menduplikasi wajah asli si artis tersebut.
Mirip, persis, tiruan, kembaran, serupa tapi tak sama dalam hal apapun di kehidupan ini: fisik, gaya bicara, karya tulis dan seni, adalah sesuatu yang lumrah dan turun temurun. Ketika menjumpai banyak warga masyarakat yang mempunyai wajah mirip dengan mantan Presiden RI, dari presiden Soeharto sampai Joko Widodo, lantas apakah kita harus mengatakan bahwa Tuhan sudah kehabisan akal, ide, dan gagasan untuk menciptakan bentuk  manusia yang kreatip kemudian sekonyong-konyong kita  pergi ke percetakan untuk membuat spanduk besar bertuliskan “Originalitas hanya buaian belaka, jika ada kesamaan secara fisik, tempat kejadian atau cerita itu murni kesengajaan dan ditengarai ada unsur kesalahpahaman”
Bukankah sesutu yang kreatip itu idealnya harus original, passionnya harus beda, tidak boleh sama, tidak ada yang mirip satu komponen pun, fresh from the oven. sama seperti pertanyaan Telur dahulu atau Ayam dahulu, atau yang mendapatkan siksa kubur itu umat yang beraliran A, B,C atau D. Bisa menjadi hal yang mustahil menemukan jawabannya atau juga menjadi pertanyaan yang sesungguhnya tidak memerlukan jawaban  sedikitpun (retoris), artinya jujur adalah jawaban dan kata kuncinya.
Originalitas  sangatlah sulit kalau harus mendekati angka 100, baik dalam hal ide, fisik, fakta, dan gaya bertutur sekalipun, selebihnya hanya pengulangan demi pengulangan. Peradaban manusia pun sesungguhnya hanya siklus yang terus datang silih berganti karena sejarah pun sesuatu yang akan berulang terus. Tidak ada hal baru dalam hidup, hanya berganti aktor dan waktu. Sejarahnya sama. Kebaikan dan kejahatan pun tetap selama-lamanya. Aktornya yang berbeda. Kita hidup pun bukan di ruang hampa. Originalitas bukan berarti tanpa pengaruh orang lain, tetapi berani mengakui pendapat orang lain.
Originalitas pun tidak menentukan kreatip atau tidak kreatif. Dalih ini beradasarkan bahwa kreativitas itu muncul dari hasil mengamati, membaca, melihat (tesis), dan menuliskan kembali (antitesis) menjadi sesuatu yang baru. Orang kreatip itu adalah orang yang bisa membalikan angka enam menjadi sembilan, memikirkan apa yang belum orang pikirkan alias unik, langka dan setengah gila, kalau ada seorang santri yang takut pulang malam dari pesantren karena harus melewati kuburan China sebelum sampai rumahnya. Maka ide yang kreatif adalah kita perlu sebuah cangkul untuk memindahkan kuburan tersebut dan menyulapnya menjadi taman kota yang indah, bukan dengan pulangnya diantar motor, pakai pengawal pribadi, atau mengajukan lampu penerangan jalan ke PLN terdekat. (wallohualam bissowab)

No comments:

Post a Comment