Surade, Sukabumi Yang Sebenarnya

Pilihan untuk pulang itu kerapkali diprioritaskan. Menempuh perjalanan 100 kilometer lebih, Surade-Sukabumi-barangkali lebih pada kenikmatan perjalanan batin saja, lelikuan keindahan, terentang diantara jarak tersebut. Hampir tak pernah surut, keelokan terhampar di sana sini membentang bersahaja di depan mata. Astaga-luar biasa. Serasa tertuntas sudah segala beban dan tanggungan hidup, Surade, The trully Sukabumi benar-benar memprasastikan sebuah asa dan kebanggaan yang teramat luhur makna dan imajinasinya. Hidup dalam nuansa metropolisme, terbantahkan begitu saja ketika pertama kali memutuskan untuk membaca segala kelebihan dan kekurangan kota sejuta kelokan tersebut.
      Romansa-romansa kedaerahan itu tampak mewarna seketika memasuki jarak nol kilometer di wilayah Pangleseran. Batas romantisme Kabupaten dan Kota Sukabumi, sekaligus gerbang pertama, sebelum mata termanjakan tradisi dan keindahan yang apa adanya. Kesederhaan akan tradisi lokal dan keindahan warisan para leluhur itu, seolah mencairkan kebekuan, kegundahan, kegelisahan-dan hirup pikuk kehidupan yang semakin narsistik, pragmatik, dan melulu klangenan semata.
      Beribu tradisi, kebiasaan, dan entitas pedesaan di rentang perjalanan 25 kilometer menuju Wilayah Bojong Lopang seketika langsung terasa, ada damba, ada keharuan menyelinap di ruang selaksa dan harpa batin ini: Perjalanan Pangleseran – Bojong Lopang semakin mengucilkan makna neoliberalisasi yang selama ini termaknakan pada sudut yang mengerikan. Tak terbantahakan, industri hilir perlahan tumbuh di daerah yang sering disebut Padabeunghar ini, mengukirkan harapan kepada penduduk untuk masa depan yang agak kentara. Ada geliat, muncul gairah disepanjang kilometer ini, pabrik-pabrik tumbuh seperti merangkak bergerilya diantara rimbunan pohoh mahuni raksasa, rindang berselintangan di kanan kiri jalan, suasana teduh pun menyeruak membuat tersimponikan pada harmoni kedamaian. Begitu enggan rasaya, melewati jarak ini hanya dengan seulas kekaguman atau dengan menurunkan tensi perjalanan. Miniatur tata rupa yang teramat sederhana, potret inspirasi dalam sketsa penciptaan gaya bermasyarakat yang asli, pertumbuhan industri yang bersinergikan alam, keindahan, dan tuntutan zaman. Subhanalloh
       Lima belas menit kita menjelma menjadi seumpama seorang peselancar dengan ombak yang naik turun (surfing on chaos). Lelikuan kelokan jalan, kenikmatan hampir tak terlewatkan disetiap kilometernya. Di sepanjang kelokan Jalan menuju daerah Bojong Lopang, selepas jembatan Cimandiri - kita akan sejenak terhenyak, dibuat mengawangkan keindahan relief geografis yang naik turun, sambil sesekali menukik naik, kelokan tampak begitu tajam-membuat katup hati akan sedikit tersentak, terombang ambing oleh turun naik dan berkelok-keloknya permukaan jalan, the real adventure-pokokna mah!. Sambil sesekali melepas pandangan ke kiri dan kanan akan membuat diafragma mata kita tervisualkan bingkai hamparan padi yang tengah menguning, jauh lebih luas lagi, tudung bukit dengan hijaunya pepohonan bertiraikan rimbunan semak pucuk perdu seakan mencuci mata dan otak kita pada hidup yang tenang, damai, dengan norma-norma yang turun temurun bersilsilah membuihkan cinta dan kasih sayang, it’s magic.
       Berjuta kenangan akan terpatri rapi ketika keluar dari suasana kota mungil, Bojong Lopang, sebuah dinamika kemasyarakatan Pajampangan akan membawa perjalanan batin kita pada tradisi kearipan lokal yang mendarah daging. Langgam bicara khas Jampang, mengiang di gendang telinga kita, sayu mendayu-dayu, takkan mudah terlupakan, takkan lekang digerus waktu, sebuah khazanah budaya, dan kekayaan intonasi bahasa, membuat keunikan tersendiri di tengah keberagaman tradisi lokal daerah ini. Bojong Lopang, akan membuat kita sedikit tertegun dengan kota kecil nan mungil ini. Sejarah rupanya mencatatkan daerah yang satu ini sebagai gerbang emas wilayah Pajampangan. Pelayanan Pendidikan, kesehatan, Ekonomi dan rasa aman bukan sesuatu yang asing lagi. Sinergi yang luar biasa, sebagai kota yang berbasiskan alam yang sebenar-benarnya-nyaris tanpa rekayasa. Kota ini seolah mengajarkan kita bagaiman caranya bercengkrama dengan alam, bagaimana membuat kita hidup nyaman di tengah teduhnya hutan belantara.
       Getar melankolisme akan terus mengalun di seperempat jarak tempuh perjalanan Sukabumi-Surade. Pangleseran, Padabeunghar, Bojong Lopang, menjadi semacam viewfinder (baca:lensa bidik) perjalanan yang masih membentang panjang. Pohon raksasa berdiri gagah berani di setiap kelokan jalan. Gemerisik daun menjadi semacam melodi alam di tengah kesenyapan hutan yang menyergap. Gegap gempita seketika menyeruak di kilometer menuju daerah Nagrog, sebelum kita sampai di kawasan Bojong Haur. Perjalanan lima puluh kilometer nyaris tak begitu terasa meskipun jalan berkelok selalu menganga di depan mata. Tak ayal, perjalanan di kilometer sebelum menuju Nagrog akan menuntut kondisi tubuh yang selalu prima. Kondisi jalan yang sudah tua dengan minimnya perawatan rutin menjadi lagu lama yang tak akan pernah berhenti bercerita.
       Tata mukim di daerah ini menjadi ilustrasi tradisi pilemburan yang begitu kental. Jarak antarrumah penduduk terpisah oleh jarak dan kelokan jalan, di sebelah kiri jalan, dinding batu cadas berusia ratusan tahun menyirip di sepanjang tepi jalan. Situasi ini terus bermetamorfosa ketika menjumpai gemericik airnya mengalir jatuh perlahan membasahi dinding jalan, maka tak heran banyak warga yang memanpaatkan anugerah alam ini untuk keperluan mencuci, minum, dan keperluan lainnya. Pada kanan jalan, sawah-sawah dengan keelokan pohon padi yang menghijau berpetak-petak menderet membentuk tangga yang turun naik, sebelum berakhir menikmati cekungan bukit-bukit berhiaskan lambaian pohon cemara dan pohon pinus. Rehat sejenak untuk menikmati harmoni alam ini adalah pilihan yang tak bisa ditawar lagi.(Sandi Erlan R)

No comments:

Post a Comment