Rindu Pulang dan Munggahan

Jujur, saya kadung mencintai aktivitas “ Pulang  ”. Pulang ke rumah ketemu anak dan istri, nongkrong di pos ronda, atau lebih precise lagi, pulang ke kampung halaman nun jauh di sana. Bagi saya kerinduan akan pulang adalah kerinduan akan suasana yang nyaman, rileks, aktivitas yang bisa memupus segala gundah gulana, tempat untuk melerai segala lelah, rutinitas yang bisa menangkis segala penat dan cape. Pulang adalah tempat dimana saya bisa menemukan semua yang saya butuhkan dalam hidup saya,: berjuta kedamaian, Kebahagiaan, kasih sayang dan anugerah tuhan lainnya. Tempat bersemainya benih cinta dan kasih sayang, Labuhan tempat memudarnya segala masalah, tampat saya belajar menjadi manusia yang baik, tempat saya belajar ngobrol, meminta saran, kritik kehidupan yang hanya bisa saya dapatkan ketika pulang.
        Pulang, ya pulang….siapa yang tak ingin lekas dan segera pulang, saya menyebutnya imanusiawi, orang yang menunda-nunda aktivitas pulang. Indah ketika terngiang kata “pulang”. Siapa yang tak ingin pulang, anak kos kah, anak rantau kah, mahasiswakah, pejabatkan, buruh kah, pemulung kah, dsb. Semua manusiawi, jangan kira kerja berangkat pagi pulang larut malam adalah idealisme semata, yakinlah semua sekedar menunggu pulang. Pulang adalah puncak dari mata rantai kehidupan, bukankah tujuan kita dalam semesta ini mempersiapkan bekal untuk perjalanan pulang.
         Pulang dan pulang, saya tanamkan betul kepada anak dan istri saya untuk memprioritaskan pulang, alangkah naifnya jika seorang ayah, ibu, suami, atau istri tidak pernah berkeinginan untuk pulang, ya pulang ke rumah atau kostan tentunya. Secepat dan sesegera mungkin. Saat memikirkan pulang, sangat jelas terlintas, senyum sumringah anak istri tercinta di depan pintu rumah. Sirna seketika segala beban dan tangggungan hidup, segala penat, lelah dan keringat hanya karena bisa pulang. Terima kasih yang Allah, telah engkau berikan, anugerah untuk selalu ingin cepat pulang.
      Untuk selalu memprioritaskan pulang, saya tanamakan pula pada anak didik saya di lembaga pendidikan. Empat pilar pembelajaran UNESCO, learning to do, to know, to be, dan to life together adalah pijakan teoritis saya ketika berasumsi tentang pulang di depan para siswa. Jelas kiranya, proses dan kegiatan meraih sesuatu (baca:pembelajaran) modern saat sekarang ini, sangat memungkinkan untuk dilakukan di habitat asal peserta didik itu sendiri. Pulang menjadi hipotesis yang bisa dibuktikan kebenarannya, bukankah semakin anak cepat pulang ke rumah, pembelajaran dalam frame UNESO itu akan segera terwujud. Belajar dalam kemasakinian bukan melulu urusan protokoler, selalu di lingkungan formal dari lepas subuh sampai jelang magrib.
       Munggahan bulan ramadhan ini, kiranya momentum yang sangat tepat untuk melakukan moratorium, supaya dibukakan jalan pikiran agar tergerak hati meluangkan waktu pulang. Karena dalam pemaknaan yang lebih luas, saya kira sepakat, pulang bukan melulu perkara berpindahnya fisik dari satu tempat ke tempat yang lain. Konsepsi pulang justru akan lebih terwakili ketika yang berpindah itu adalah perasaan, mengingat apa yang telah kita perbuat satu tahun kebelakang serta siapa yang senantiasa tengadah di ¾ malam memimbing kita dengan seuntai doa dan sujud syukurnya. Dalam konteks ini, perpindahan itu terjadi secara fsikis, mudah-mudahan bisa menjadi awal dari ikhtiar kita untuk kembali ke khitahnya sebagai manusia yang dikodratkan selalu ingin dan cepat pulang, baik itu pulang ke kontrakan ketemu ibu kost, pulang ke rumah ketemu anak dan istri, atau pulang ke kampung halaman nun jauh disana, sekedar sembah sujud kepada kedua orang tua, tetangga, dan sanak saudara…marhaban ya ramadhan (Sandi Erlan R.)

No comments:

Post a Comment