Memaknai Pulang

Ada sebuah heroisme kontekstual yang mahadalam dalam proses pemaknaan pulang. Siapapun itu. Sebagai Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Suami, Istri, Anak, pacar, selingkuhan, pelarian, atau bahkan cucu, tanpa terkecuali kita sebagai subjek atau objek. Lumrah adanya atau bahkan tendensius mungkin. Lumrah ketika kita seharian membanting tulang, memeras tenaga-ya, sekedar menggali sisa-sisa harap- dan seketika itu, spontanitas kita rindu, ada sesuatu yang menggebu-menderu-deru...pulang, harus pulang...kepengen pulang.
Pada pemaknaan lain, Tendensius barangkali, ketika berhari,berminggu, bahkan berbulan-bulan, menimba ilmu di sebuah lembaga formal atau perguruan tinggi, tetapi yang terisi dalam batok kepala kita : Pulang ketemu Emak, Mancing di sungai, Makan sambel+lalabnya, atau jalan di pematang sawah, menikmati hamparan padi di sekitaran area perkampungan. Bagi seorang buruh, Uang dan Jabatan itu tamsil, tafsir mimpi, luka, nganga atau onak, bom waktu. Tetapi lebih teramat penting, ketemu istri,gendong anak, kumpul keluarga. Bagi seorang terpelajar (baca:mahasiswa), illmu itu filmis adanya, seibarat rangkaian gerbong kereta, atau selalu berseru"kita bukan habibi" satu semester menjadi teknokrat, butuh waktu tiga sampai lima tahun bagi kita, itupun tak sedikit yang hanya menyandang gelar merek dagang doang: S.Pd, SE, S.Si, ST atau S.Od (sarjana omong doang)
        Segar dalam ingatan, dalam bukunya Ary H. Gunawan : Pengantar Sosiologi Pendidkan, rasa kangen pulang itu hakekat seorang individu menikmati hidupnya, lebih nyastra lagi "pulang itu buaian kepribadian". dalam bahasa mahasiswa : jika seorang berpredikat the broken heart, the broken born, "pulang" tindakan medisnya. Karena banyak literer psikologi berpendapat esensi pulang itu ada pada relung perasaan/tentang perasaan dan hati tidak melulu bicara tempat, persinggahan, atau tempat peristirhatan. Makanya dalam setiap kesempatan, saya selalu berisyarat kalau waktunya pulang, ya pulang. Pulang dari kampus, kantor, sekolah, pekerjaan, mall dsb.
      Ketika masih berprofesi sebagai mahasiswa saya tidak segan-segan untuk memminta dosen. Datang terserah, tetapi urusan pulang, saya berteriak ..."now or never (pulang atau tidak sama sekali". Prinsip ini, saya tanamkan terus ketika saya nyemplung jadi buruh pemerintah (baca:PNS). Berpredikat sebagai pendidik, pada anak murid selalu berujar, waktunya pulang semua harus pulang. Tidak ada lagi proses pembelajaran. What is the reason?"Dalam Empat pilar pembelajaran UNESCO, salah satunya tercantum learning to life together (selain learning to be, to do, dan to know), ilmu dan belajar itu bisa setengahnya diperoleh dengan bermasyarakat. Artinya semakin cepat anak itu pulang, retranspormasi ilmu bisa segera terinstalasi. Pulang sesuatu yang teramat mahal buat saya, prinsipil, kode etik, soko guru, atau bahkan cenderung introvert. Gitu aja dulu, mau pulang, he..he..(Sandi Erlan R.)

No comments:

Post a Comment