Harta, pangkat, jabatan, dan gelar kehormatan adalah anugerah yang mesti disyukuri sekaligus ditauladani. Hikmah terlahir sebagai khalifah di muka bumi (baca:manusia) bukan melulu persoalan strata sosial dan raihan kesuksesan. Ada banyak, beribu bahkan berjuta maknanya bagi usaha manusia memanusiakan manusia. Harta melimpah, pangkat mengundak, jabatan melekat, gelar akademis pun demikian, yakinlah itu bagian terkecil dari buah menjalani hidup, karena substansinya bukan melulu urusan kefanaan.
Pilihan-pilihan dalam menjalani kehidupan beragam motif dan kausalitasnya. Tetapi kedinamikaan tersebut muaranya ada pada visi kita sebagai pembelajar kehidupan, bukankah harta, pangkat, jabatan, gelar kehormatan, bahkan perempuan sekalipun adalah sekedar platform untuk membuat kita lebih ngerasa dan terkesan berlebihan: mobil mewah, calon direktur, senior supervisor, wanita cantik, dsb. Meskipun ukuran “lebih” itu relatif bagi bangsa kita yang cenderung ketimur-timuran. Akan berasa “lebih” dengan kepemilikan di atas (harta, pangkat, jabatan, dan perempuan) yaitu ketika seseorang itu menyadari kodratnya sebagai manusia dalam ketuhanannya. Kodrat yang dimaksudkan tersebut adalah pilihan untuk memilih pulang.
Pulang bukan melulu urusan harta, pangkat, dan urusan keduniaan, terapi urusan perasaan dan legalitasnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Jangan pernah sekalipun berpaling atau membohongi kodrat kita sebagai manusia untuk mengkuti jalan pikiran dan perasaan untuk segera, lantas dan secepatnya pulang. Insting Pulang itu anugerah tuhan yang sungguh tiada bandingannya. Sungguh celaka bagi seseorang yang selalu menahan keinginan untuk cepat dan segera pulang. Pulang kekostan, pulang kekontrakan, pulang ke rumah, pulang ke kampung halaman dengan sesegera mungkin adalah sukses kehidupannya yang teramat mahal harganya. Bahkan pulang ke kampung halaman nun jauh di sana sakralitasnya teramat istimewa.
Ada banyak permata dan obat yang begitu mahal harganya, ketika kita memutuskan untuk pulang, ada berjuta saujana di wajah lelah kedua orang tua kita, saudara, tetangga, dan sahabat di waktu kecil bermain petak umpet, engrang, layangan, dsb. Ada hamparan sawah yang sebagian tandus dan sebagian kecil menghijau dengan alang-alang dan rerumputan. Lihatlah baligo-baligo raksasa di kelengangan jalan-jalan desa, halaman madrasah Ibtidaiyah yang sudah membukakan kita pintu surga dan kehidupan berikutnya, tengok juga bangunan SD bekas kita menimba ilmu hingga menjadi saat sekarang ini, memilih pulang adalah memilih untuk damai dan menyadari kodrat kita sebagai manusia, lupakan dan tinggalkan pekerjaan yang melampaui batas waktu pulang, jika perlu matikan handphone untuk sementara waktu, khawatir atasan menguhubungi dan memberikan tugas tambahan dan mengganggu acara pulang, ada kedua orang tua, anak, suami, istri, dan tetangga setia menunggu kita pulang, yakinlah. (Sandi Erlan R)
Pulang bukan melulu urusan harta, pangkat, dan urusan keduniaan, terapi urusan perasaan dan legalitasnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Jangan pernah sekalipun berpaling atau membohongi kodrat kita sebagai manusia untuk mengkuti jalan pikiran dan perasaan untuk segera, lantas dan secepatnya pulang. Insting Pulang itu anugerah tuhan yang sungguh tiada bandingannya. Sungguh celaka bagi seseorang yang selalu menahan keinginan untuk cepat dan segera pulang. Pulang kekostan, pulang kekontrakan, pulang ke rumah, pulang ke kampung halaman dengan sesegera mungkin adalah sukses kehidupannya yang teramat mahal harganya. Bahkan pulang ke kampung halaman nun jauh di sana sakralitasnya teramat istimewa.
Ada banyak permata dan obat yang begitu mahal harganya, ketika kita memutuskan untuk pulang, ada berjuta saujana di wajah lelah kedua orang tua kita, saudara, tetangga, dan sahabat di waktu kecil bermain petak umpet, engrang, layangan, dsb. Ada hamparan sawah yang sebagian tandus dan sebagian kecil menghijau dengan alang-alang dan rerumputan. Lihatlah baligo-baligo raksasa di kelengangan jalan-jalan desa, halaman madrasah Ibtidaiyah yang sudah membukakan kita pintu surga dan kehidupan berikutnya, tengok juga bangunan SD bekas kita menimba ilmu hingga menjadi saat sekarang ini, memilih pulang adalah memilih untuk damai dan menyadari kodrat kita sebagai manusia, lupakan dan tinggalkan pekerjaan yang melampaui batas waktu pulang, jika perlu matikan handphone untuk sementara waktu, khawatir atasan menguhubungi dan memberikan tugas tambahan dan mengganggu acara pulang, ada kedua orang tua, anak, suami, istri, dan tetangga setia menunggu kita pulang, yakinlah. (Sandi Erlan R)

No comments:
Post a Comment