SIKAT GIGI


Sikat gigi menjadi istri ke dua pak Lurah. Ia resmi berpoligami, salah satu alasannya karena terobsesi denga jejak yang sudah dilakukan oleh tokoh besar di negeri ini. Sebut saja KH. Abdullah Gimnastiar, Ustadz Ahmad Al Habsyi, Luthfi Hasan Ishaaq, dsb.Sikat gigi dipilih pak Lurah menjadi istri keduanya. Ini karena banyak hal. Apalagi sejak ia terpilih untuk yang pertama kali jadi lurah, perhatiannya kepada gigi mungkin berlebihan. Tetapi ia punya alasan yang kuat. Tiga kali menurut pengakuan istrinya, ia sempat gagal dalam pemilihaan kepala desa, semata karena gigi.

Pertama karena giginya mendadak bengkak pada saat-saat yang menentukan. Bukan saja mukanya kelihatan bego, juga kata-katanya jadi tak jelas dan jalan pikirannya jadi ngawur akibat menahan sakit. Itu dianggap menjadi musabab kegagalan pertama.Hal itu terulang lagi pada pemilihan beirkutnya. Giginya mendadak bengkak, justru saat-saat ia melakukan kampanye. Pada saat itu, ia masih berusaha dengan gigih maju tanpa menghiraukan sakit dan penampilan yang buruk. Akibatnya ia kalah lagi dalam pertarungan pilkades yang kedua kalinya

Dalam pencalonan yang ketiga, memang giginya tida terlalu sakit lagi, tapi toh ia kalah juga. Usut punya usut, kata istrinya, kekalahan pak lurah di pilkades ketiga disebabkan oleh bau busuk yang selalu keluar dari mulutnya. Tambah noda kuning di sela giginya memberikan penampilan yang sama sekali nol. Apalagi tak jarang ada bekas cabe merah dan jigong yang menempel di giginya yang memang tidak terlalu rata.“Jangan disangka orang desa tidak memperhatikan soal-soal kebersihan. TV, Video, Koran sudah masuk desa. Rakyat bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa artinya modern.  Kebutuhan mereka untuk maju dan modern seperti terbimbing oleh gambar yang mereka lihat. Meskipun tarap kesehatan dan kebersihan mereka sendiri masih cukup rendah, justru itu yang menyebabkan mereka amat memuji apa yang ada digambar-gambar itu. Sebagai akibat, calon pemimpin yang tidak menghiraukan keindahan gigi, yang membiarkan, maaf “jigong” dan cabe di sela-sela gigi dan maaf, yang menyebabkan mulut berbau busuk, dianggap sebagai alamat buruk yang akan menjauhkan mereka dari kemajuan. Jadi, mulai sekarang kalau ingin menarik simpati warga masyarakat, kita harus menunjukan penampilan yang baik. Ujar istrinya mengkritisi Penampilan Pakde.

Sejak saat itu, pakde memusatkan perhatiannya pada sikat gigi. Benda yang pernah ditolaknya itu karena lebih percaya pada remukan batu cadas sebagai penggosok gigi, mulai dicobanya. Keponaknnya mengajarkan ia, bagaimana menggerakan sikat gigi dengan efektif, sehat dan dan tidak menyakitkan. Hampir sebulan mulutnya selalu berdarah-darah dan tersiksa karena sodokan-sodokan sikat gigi. Hanya karena segan sama istrinya, ia maju terus dan ia mulai jarang sakit gigi, dan bahkan giginya Nampak bersinar-sinar.

Akhirnya Ia pun mencalonan lagi pada pemilihan kepala desa untuk yang keempat kalinya.  Dan tak disangka penmapilannya kini lain. Ia siap. Giginya yang bersinar-sinar menyebabkan ia banyak tersenyum. Mulutnya gampang terbuka dengan ramah terhadap siapapun. Setiap kali keluar rumah, selalu saja menebar senyuman yang membuat orang melihat pun jadi simpati. Dan akhirnya ia pun berhasil menjadi kepala desa terpilih.

Setelah berhasil karena sikat gigi, ia begitu menganakemaskan sikat gigi. Tidak hanya setiap kali akan mandi, tetapi juga setiap kali habis makan. Bahkan setiap ada kesempatan. Juga kalau pikirannya agak ruwet, meskipun giginya bersih, ia akan pergi ke kamar mandi dan menyikat gigi. “Sikat gigi tidak hanya membersihkan gigi, tetapi juga membantu membersihkan pikiran”, ujarnya dalam setiap sambutan yang diberikan.   

Dengan menyikat gigi, kita juga seperti melakukan kegiatan eksra yang memberikan relaksasi yang membuat hati kita tenang dan pikiran yang segar, dan sekaligus membuat gigi kita menjadi bersih, terhindar dari bau mulut, sariawan, gusi berdarah, bahkan serangan kanker mulut.  Karena kalau gigi bersinar, secara psikilogis itu memberikan polesan tenaga ekstra pada kata-kata yang kita keluarkan. Sehingga orang yang mendengarnya  bisa lebih tertusuk, karena itu percayalah, menggosok gigi itu memiliki nilai kebersihan, disiplin, dan sipiritual. Ujarnya (Wallohualam bisowab).

No comments:

Post a Comment