Pakde shock ketika mendapati kedua matanya, tak lagi jelas melihat perempuan. Mulanya hanya erempuan dengan makeup mencolok, pakaian super ketat, rok di atas lutut, bedak memucat, lipstick memerah saga yang luput dari penglihatnnya. Ia menjerit begitu histeris, depresi tingkat tinggi, ternyata semua perempuan berusia 17 tahun ke atas hilang dari penglihatannya. Bahkan 'wabil khusus' perempuan berparas cantik, bukan hanya hilang dari penglihatnnya, tetapi juga hilang dari ingatannya. Tidak akan ada lagi cerita di pos ronda yang bakalan bisa ia ceritakan lagi kepada orang-orang di kampungnya, hilang bak ditelan bumi. Ia menangis sedu sedan, wajahnya pudar, matanya nanar, rambutnya yang sudah beruban nampak kusut masai berantakan tak beraturan. “kiamat…kiamat…kiamat“ ungkapnya penuh histeris. Tetapi anehnya tulisan “gak ada loe gak rame” di papan Billboard pinggiran kota masih mampu Ia eja. Bahkan tulisan ‘Dji Sam Soe’ pada salah satu bungkus rokok kretek, masih terlihat dengan jelas dalam radius 5 meter, Hologram berhadiah ribuan mobil mewah pada cangkang kopi ABC juga mampu ia baca, bahkan sambil sumringah ketawa-ketawa. Tetapi setali tiga uang, Pakde pun selalu menggelengkan kepala tanda menolak ketika ada tawaran anaknya untuk periksa ke dokter mata.
Pakde, Lelaki paruh baya, seperawakan Ustadz Kemed dalam Sinetron Dunia terbalik hanya bisa pasrah. Kelurga besarnya pun hanya bisa melongo mendapati orang tuanya dalam keadaan yang tidak lazim dan tidak biasa. "Hanya perempuan 17 tahun ke atas yang tidak bisa Pakde lihat", sementara itu kesimpulan yang ada. Toh tiga orang cucu perempuannya masih ia kenali dengan jelas.
Bahkan profesi pengemudi nayora yang ia tekuni sejak 70 tahun silam, kini tidak jelas rimbanya. banyak pelanggan Pakde yang mulanya cuek, komplain, akhirnya ada yang sampai memutuskan untuk menjenguk ke rumahnya, seketika berubah menjadi ikut berbelasungkawa. bahkan salah seorang langganan ada yang berinisiatif untuk membuatkan kotak sumbangan demi mengundang rasa iba bagi para pengunjung yang datang ke rumah. semata demi membersitkan semangat pada Pakde untuk menjalani sisa masa tuanya dengan tenang.
Kehidupan ekonomi dan psikologi Pakde berbalik 360 derajat, dari mulanya berkecukupan kini perlahan berhutang sana sini. Tidak ada lagi lagu "Ada Gajah di Balik Batu" yang pakde nyanyikan dari balik kemudi nayoranya. Rumah sepi, Pos Ronda Sepi, pangkalan tempat Pakde menunggu penumpang pun demikian(Wallohualam bisowab)

No comments:
Post a Comment