Desain grafis adalah profesi yang lazim dan
banyak ditekuni. Desainer grafis pun tersebar dimana-mana, buah karyanya
mewabah disemua lapisan masyarakat, cek saja, tukang tambal ban pun punya kartu
nama. Dibelahan bumi bagian manapun kita akan bertemu dengan salah satu diantaranya,
dunia seakan menyempit tidak lebih luas dari daun merunggai (baca:kelor). Tongkrongan utamanya adalah toilet, Lagu kesayangannya kadang dangdut kadang rock kadang R n B, tempat ngerumpinya biasanya pos ronda, cara berpikir dan bertindaknya pun cenderung aneh, kalau lagi jalan di Mall, mereka lebih suka menganalisa tekstur dan pola di meja cafe daripada mendengar kamu bicara. Mereka lebih ingat kapan Adobe Photoshop terbaru akan launching daripada ingat kapan ulang tahun kamu dirayakan.
Dalam benak seorang desain grafis, mengenal
lawan jenis itu berarti pemetaan masalah atau Brainstorming,
yaitu membahas suatu masalah secara kritis dengan urutan yang sangat kaku,
yakni menganalisis hasil obrolan per layer.
Misalnya, kita membahas global warming. Kita catat topiknya di kertas terus
pikirkan tuh apa saja yang berhubungan dengan global warming. Semua yang
kepikiran juga dicatat dikertas itu. Istilah lainnya, free thinking. Brainstorming tidak
harus selalu dilakukan secara berkelompok. Sendiri-sendiri juga bisa. Tapi kalo
mau memecahkan masalah, biasanya perlu bantuan dari orang lain, mendingan yang dibahasnya masalah global
warming, bisa celaka kalau topik yang dibicarakannya tentang pacaran, kenalan,
atau kencan. Dari hal ini, sebenarnya kebiasaan nongkrong berjam-jam di atas
toilet sudah bisa ditebak motif dan alasannya.
Ungkapan “tidak punya waktu” adalah hal yang pastinya menjengkelkan. Untuk hal selain membuat konsep pola dan rancangan gambar. Mereka akan meninggalkan
komputer/laptop cuma karena tiga hal : toilet, ngantuk dan lapar. Kalaupun mereka mau
diajak keluar, mereka akan membawa note book dan pensil untuk doodling.
Dan akhirnya kamu akan sadar, itu sama saja dengan jalan sendirian. Hobi Shopping,
tentu bukan shopping sembarang shopping, tapi shopping segala barang yang super
aneh. Seperti graphic tablet yang suatu saat akan kamu pakai sebagai alas untuk mencincang
bawang. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan uang membeli font, template, dan plugin daripada
membelikanmu hadiah ulang tahun. Oh God, what a geek!
Kritikus ulung, demikian kebanyakan seorang Desainer
grafis. Hobi dan doyan mengkritik, dan kita akan diajak untuk setuju dan ikut
mengkritik. Segala hal berbau visual dikritik, dari mulai menu makanan di kafe berikut gaya si pramusaji dalam menyajikan makanannya, hal lainnya : desain di baliho, logo toko-toko dijalan, sampai dengan
kombinasi warna pakaian yang kamu pakai. Tidak lupa, kamu juga akan diceramahi tentang
"psikologi warna" oleh dia. Bagi seorang desainer grafis, warna
sama dengan karyawan, akan mudah mengurusi dua orang karyawan daripada lima
orang karyawan. Dua warna pada pakaianmu lebih logis dan eye catching di mata
dia dibandingkan banyak warna pada pakaian dan menimbulkan kesan norak dari penampilan
kita.
Memegang teguh prinsip keharusan bagi setiap
orang, tak terkecuali seorang desainer grafis. Prinsip simplicity atau
kesederhanaan hal yang akan sering dijumpai tentunya kalau memutuskan untuk
lebih dekat dengan manusia yang berprofesi ini. Itu seperti rukun iman bagi
mereka. Segala hal dibuat sederhana : makan ditempat yang sederhana (warteg),
nikah juga resepsinya sederhana (cukup di kantor KUA), sampai dengan rayuan
juga harus sederhana (cuma bilang ya dan tidak), baginya sederhana itu indah,
mudah dicerna, namun tetap kaya makna. Wallahualam bishawab! (Sandi Erlan/April 2014)
No comments:
Post a Comment