Seni Menata Gambar : Sandi Erlan R


Desain grafis merupakan perwujudan rancangan dalam bentuk gambar, desain artinya rancangan dan grafis artinya gambar. Setiap gambar ataupun material yang tampak kasat mata, maka bisa disebut sebagai  objek grafis. Aktivitas kehidupan sehari-hari, disadari atupun tidak, merupakan buah rutinitas dari proses desain grafis
Tuhan memberikan anugerah kepada setiap orang kemampuan untuk memilih, merancang, dan menata sesuatu melalui mata, akal dan perasaan. Menyusun aneka kudapan di meja  makan, mengecat rumah, memilih model pakaian,  mencoret-coret dinding, atau kegiatan ibu di rumah membuat resep memasak makanan, semua adalah pekerjaan yang berhubungan dengan membuat desain dan mereka-reka bentuk grafis. Belajar desain grafis hakikatnya melatih kepekaan akan  porsi dan prioritas mana dan apa saja yang harus diurutkan, persoalannya bukan benar salah, baik atau buruk, akan tetapi kebermenarikan menurut mata (eye catching) dan kesesuaian dengan perasaan (be my hearth).  Bukankah Jatuh hati kepada perempuan selalu berawal dari mata kemudian turun ke hati, begitulah gambaran sederhana dalam memahami, merancang dan menilai karya desain grafis, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi membawa kemudahan dalam membuat rancangan grafis, sejalan dengan itu kebutuhan akan produk-produk desain grafis pun semakin meningkat, penggunaanya tidak terbatas sebagai alat komunikasi visual pada satu bidang saja, kini segmentasinya sudah multivisi: corong politik, bisnis, strata sosial,hiburan bahkan gaya hidup. Setiap perempatan jalan selalu ramai dengan produk-produk desain grafis, sangat tidak mungkin seorang manager perusahaan tidak memiliki kartu nama atau coba dicek saja, semua produk-produk yang diperjualbelikan di pasar tradisional maupun modern bahkan pemilihan ketua RT saja, adakah yang tidak menggunakan produk desain grafis sebagai jualannya?
 Era digital memiliki andil yang besar terhadap kemudahan akan akses pada bidang olah grafis. Semua orang dan kalangan apapun memiliki kesempatan yang sama untuk membuatnya, tidak perlu bakat, tidak mesti sekolah, siapapun dia, tidak ada alat ukur yang bisa menilai layak atau tidak layak, mungkin yang ada adalah alat untuk memudahkan dalam hal teknis pengerjaannya ( komputer, aplikasi grafis, printer, hand phone, dsb)  serta nilai keuntungan finansial yang bisa didapatkan. Ketika jaman dahulu eranya Nini Anteh, Dewi Pohaci, Dewi Sri, Leonardi Da Vinci, Picasso, membuat desain grafis adalah milik orang-orang yang memiliki bakat secara khusus, yaitu orang yang memiliki keterampilan menggambar tangan (hand made), untuk era sekarang yakinlah itu semua adalah masa lalu yang sudah dikubur dalam-dalam, pernahkah anda berpikir, suatu saat nanti anda ke pelaminan, membuat lima ribu undangan dengan tulis tangan dan photo pra wedding anda lukis dengan tangan pula, saya yakin pernikahan anda akan gagal total, yang ada bersiaplah anda untuk menjadi orang gila.
Membenarsalahkan idealisme desain grafis dengan tangan (manual) dan komputer (digital) serupa dengan menghalalharamkan keharusan dalam pengurusan orang meninggal dalam islam, keyakinan A mengharuskan dikondisikan sebagaimana mestinya, keyakinan B mengharuskan perlakuannya sesuai dengan kondisi yang memungkinkan pada saat itu dan kemampuan keluarga yang ditinggalkan, maka dua keyakinan itu sama benarnya, yang salah adalah orang yang mempermasalahkannya. Membuat komik, lukisan, sketsa maka idealnya dikerjakan oleh orang yang mampu menggambar dengan tangan, sebaliknya membuat Undangan pernikahan, photo pra wedding, kartu nama, flyer cukup dengan bantuan komputer.
Bakat saja tidak akan berguna, begitu juga keberadaan perangkat komputer akan mubazir dan sia-sia tanpa dorongan untuk menekuni bidang ini, potensi pun tidak akan tergali bila tidak ada motivasi untuk segera memulainya. Maka, modal penting adalah menyukai dan mencintainya setulus hati. Bukankah orang yang jatuh cinta senantiasa sepenuh hati dalam mencintai dan memperlakukan pasangannya. Peribahasa orang Sunda mengatakan“cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok” artinya sesulit apapun pekerjaaan itu semua akan bisa dan mudah jika terbiasa mengerjakan pekerjaan tersebut.
A.   Karakteristik Perancang Grafis  
Ada tiga mitos kriteria seorang perancang grafis, setidaknya untuk memudahkan anda untuk memulai dan menekuni bidang olah grafis, tidak ada batasan dan teori pasti mengenai hal tersebut:    
1.   Be creative (kreatif)
Bobbi De Porter dan Mike Hernacki mengartikan kreativitas sebagai pikiran untuk melihat pikiran dengan cara memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain. Orang kreatif itu bisa membalikan angka enam menjadi sembilan, tongkrongannya di WC, pos ronda, bilik warnet, Mall. Koleksi lagunya: dangdut, Malaysia, Koplo, Slow Rock, Underground, Ska, dsb. Gaulnya sama Pak RT, RW, Polisi, Pejabat, pengamen, dsb. Kehadirannya tidak diundang pergi pun tanpa permisi. Coba tengok iklan sebuah merek rokok yang besar bidangnya segede lapangan basket, isinya Cuma “bukan basa basi” atau coba perhatikan iklan di televisi dengan durasi 2 menit dengan biaya ratusan juta rupiah, merek dagangnya hanya ditampilkan di dua detik terakhir. Kreativitas tidak bisa dibeli dengan uang, diundang dengan jamuan makan-makan, adakalanya ide-ide kreatif datang secara tiba-tiba, nongkrong di toilet, atau naik angkot keliling kota.  
2.   Work Faster (Kerja Cepat)
Ketika belum ada jalan bebas hambatan (tol) Cipularang, Perjalanan Bandung - Jakarta ditempuh dengan waktu kurang lebih 5 jam. Itu tidak berlaku lagi, sekarang rute itu bisa ditempuh dengan waktu 2 jam saja, meskipun dengan beban biaya yang lebih mahal, tetap orang tujuan dari Bandung ke Jakarta akan lebih nyaman menggunakan jalur tol Cipularang. Profesi sebagai pengolah dan perancang grafis pun demikian keberadaannya. Modal kreativitas belum cukup, coba anda baca kriteria lowongan pekerjaan, selain memiliki keahlian di profesinya, syarat lainnya anda harus gesit, luwes, tepat, akurat dan terbiasa bekerja dengan deadline. Pembaca surat kabar harian atau majalah tidak pernah berpikir kesulitan dan kendala yang anda hadapi sebagai perancang grafis ketika melay out berita setiap harinya, buatnya : Koran itu harus sudah di tangan jam 6 pagi, dengan tulisan yang rapi, desain yang menarik, dan tentunya berita yang aktual. Penonton televisi tidak mau tahu, begitu ribetnya membuat rundown acara televisi, baik yang on air mapun tapping (rekaman), ketika pekerja televisi membuat kekeliruan dan terganggunya kenyamanan pemirsa di rumah, maka bersiaplah anda untuk mendapat caci maki sebagai orang yang bekerja lambat,  tidak profesional, kurang kompeten, dan minim jam terbang.
3.   Knowing The Problem
Anda adalah problem solver atau pemecah masalah, pesulap yang merubah mimpi menjadi kenyataan, pembaca pikiran orang dan menerjemahkannya ke dalam bentuk rangkaian gambar, anda harus komitmen dengan tagline “mengatasi masalah tanpa masalah”, dalam laut dapat diduga, keinginan hati orang tidak ada yang tahu. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan olah gambar adalah serangkaian masalah, tugas anda adalah memetakan dan mencari jalan keluarnya.(Wallahu A'lam Bishawab)

No comments:

Post a Comment