Desain grafis merupakan perwujudan rancangan dalam bentuk gambar, desain artinya rancangan dan grafis artinya gambar. Setiap gambar ataupun material yang tampak kasat mata, maka bisa disebut sebagai objek grafis. Aktivitas kehidupan sehari-hari, disadari atupun tidak, merupakan buah rutinitas dari proses desain grafis
Tuhan
memberikan anugerah kepada setiap orang kemampuan untuk memilih, merancang, dan
menata sesuatu melalui mata, akal dan perasaan. Menyusun aneka kudapan di
meja makan, mengecat rumah, memilih
model pakaian, mencoret-coret dinding,
atau kegiatan ibu di rumah membuat resep memasak makanan, semua adalah
pekerjaan yang berhubungan dengan membuat desain dan mereka-reka bentuk grafis.
Belajar desain grafis hakikatnya melatih kepekaan akan porsi dan prioritas mana dan apa saja yang
harus diurutkan, persoalannya bukan benar salah, baik atau buruk, akan tetapi
kebermenarikan menurut mata (eye catching) dan kesesuaian dengan perasaan (be
my hearth). Bukankah Jatuh hati kepada
perempuan selalu berawal dari mata kemudian turun ke hati, begitulah gambaran
sederhana dalam memahami, merancang dan menilai karya desain grafis, baik untuk
diri sendiri maupun orang lain.
Pesatnya
perkembangan teknologi informasi membawa kemudahan dalam membuat rancangan
grafis, sejalan dengan itu kebutuhan akan produk-produk desain grafis pun
semakin meningkat, penggunaanya tidak terbatas sebagai alat komunikasi visual
pada satu bidang saja, kini
segmentasinya sudah multivisi: corong politik, bisnis, strata sosial,hiburan
bahkan gaya hidup. Setiap perempatan jalan selalu ramai dengan produk-produk
desain grafis, sangat tidak mungkin seorang manager perusahaan tidak memiliki
kartu nama atau coba dicek saja, semua produk-produk yang diperjualbelikan di
pasar tradisional maupun modern bahkan pemilihan ketua RT saja, adakah yang
tidak menggunakan produk desain grafis sebagai jualannya?
Era digital memiliki andil yang besar terhadap
kemudahan akan akses pada bidang olah grafis. Semua orang dan kalangan apapun
memiliki kesempatan yang sama untuk membuatnya, tidak perlu bakat, tidak mesti
sekolah, siapapun dia, tidak ada alat ukur yang bisa menilai layak atau tidak
layak, mungkin yang ada adalah alat untuk memudahkan dalam hal teknis
pengerjaannya ( komputer, aplikasi grafis, printer, hand phone, dsb) serta nilai keuntungan finansial yang bisa
didapatkan. Ketika jaman dahulu eranya Nini Anteh, Dewi Pohaci, Dewi Sri,
Leonardi Da Vinci, Picasso, membuat desain grafis adalah milik orang-orang yang
memiliki bakat secara khusus, yaitu orang yang memiliki keterampilan menggambar
tangan (hand made), untuk era sekarang yakinlah itu semua adalah masa lalu yang
sudah dikubur dalam-dalam, pernahkah anda berpikir, suatu saat nanti anda ke
pelaminan, membuat lima ribu undangan dengan tulis tangan dan photo pra wedding
anda lukis dengan tangan pula, saya yakin pernikahan anda akan gagal total,
yang ada bersiaplah anda untuk menjadi orang gila.
Membenarsalahkan
idealisme desain grafis dengan tangan (manual) dan komputer (digital) serupa
dengan menghalalharamkan keharusan dalam pengurusan orang meninggal dalam
islam, keyakinan A mengharuskan dikondisikan sebagaimana mestinya, keyakinan B
mengharuskan perlakuannya sesuai dengan kondisi yang memungkinkan pada saat itu
dan kemampuan keluarga yang ditinggalkan, maka dua keyakinan itu sama benarnya,
yang salah adalah orang yang mempermasalahkannya. Membuat komik, lukisan,
sketsa maka idealnya dikerjakan oleh orang yang mampu menggambar dengan tangan,
sebaliknya membuat Undangan pernikahan, photo pra wedding, kartu nama, flyer
cukup dengan bantuan komputer.
Bakat
saja tidak akan berguna, begitu juga keberadaan perangkat komputer akan mubazir
dan sia-sia tanpa dorongan untuk menekuni bidang ini, potensi pun tidak akan
tergali bila tidak ada motivasi untuk segera memulainya. Maka, modal penting
adalah menyukai dan mencintainya setulus hati. Bukankah orang yang jatuh cinta
senantiasa sepenuh hati dalam mencintai dan memperlakukan pasangannya.
Peribahasa orang Sunda mengatakan“cikaracak
ninggang batu laun-laun jadi legok” artinya sesulit apapun pekerjaaan itu semua
akan bisa dan mudah jika terbiasa mengerjakan pekerjaan tersebut.
A.
Karakteristik
Perancang Grafis
Ada tiga mitos kriteria seorang perancang grafis,
setidaknya untuk memudahkan anda untuk memulai dan menekuni bidang olah grafis,
tidak ada batasan dan teori pasti mengenai hal tersebut:
1. Be
creative (kreatif)
Bobbi
De Porter dan Mike Hernacki mengartikan kreativitas sebagai pikiran untuk
melihat pikiran dengan cara memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain. Orang
kreatif itu bisa membalikan angka enam menjadi sembilan, tongkrongannya di WC,
pos ronda, bilik warnet, Mall. Koleksi lagunya: dangdut, Malaysia, Koplo, Slow
Rock, Underground, Ska, dsb. Gaulnya sama Pak RT, RW, Polisi, Pejabat,
pengamen, dsb. Kehadirannya tidak diundang pergi pun tanpa permisi. Coba tengok
iklan sebuah merek rokok yang besar bidangnya segede lapangan basket, isinya
Cuma “bukan basa basi” atau coba perhatikan iklan di televisi dengan durasi 2
menit dengan biaya ratusan juta rupiah, merek dagangnya hanya ditampilkan di
dua detik terakhir. Kreativitas tidak bisa dibeli dengan uang, diundang dengan
jamuan makan-makan, adakalanya ide-ide kreatif datang secara tiba-tiba,
nongkrong di toilet, atau naik angkot keliling kota.
2. Work
Faster (Kerja Cepat)
Ketika
belum ada jalan bebas hambatan (tol) Cipularang, Perjalanan Bandung - Jakarta
ditempuh dengan waktu kurang lebih 5 jam. Itu tidak berlaku lagi, sekarang rute
itu bisa ditempuh dengan waktu 2 jam saja, meskipun dengan beban biaya yang
lebih mahal, tetap orang tujuan dari Bandung ke Jakarta akan lebih nyaman
menggunakan jalur tol Cipularang. Profesi sebagai pengolah dan perancang grafis
pun demikian keberadaannya. Modal kreativitas belum cukup, coba anda baca
kriteria lowongan pekerjaan, selain memiliki keahlian di profesinya, syarat
lainnya anda harus gesit, luwes, tepat, akurat dan terbiasa bekerja dengan
deadline. Pembaca surat kabar harian atau majalah tidak pernah berpikir
kesulitan dan kendala yang anda hadapi sebagai perancang grafis ketika melay
out berita setiap harinya, buatnya : Koran itu harus sudah di tangan jam 6
pagi, dengan tulisan yang rapi, desain yang menarik, dan tentunya berita yang aktual.
Penonton televisi tidak mau tahu, begitu ribetnya membuat rundown acara televisi,
baik yang on air mapun tapping (rekaman), ketika pekerja televisi membuat
kekeliruan dan terganggunya kenyamanan pemirsa di rumah, maka bersiaplah anda
untuk mendapat caci maki sebagai orang yang bekerja lambat, tidak profesional, kurang kompeten, dan minim
jam terbang.
3. Knowing
The Problem
Anda
adalah problem solver atau pemecah masalah, pesulap yang merubah mimpi menjadi
kenyataan, pembaca pikiran orang dan menerjemahkannya ke dalam bentuk rangkaian
gambar, anda harus komitmen dengan tagline
“mengatasi masalah tanpa masalah”, dalam laut dapat diduga, keinginan hati
orang tidak ada yang tahu. Semua pekerjaan yang berhubungan dengan olah gambar
adalah serangkaian masalah, tugas anda adalah memetakan dan mencari jalan
keluarnya.(Wallahu A'lam Bishawab)

No comments:
Post a Comment